by

Nyaris Dihakimi Massa, Kemunculan Orgil Lampura Sisakan Pertanyaan

KEMUNCULAN Rafik, pria —bertingkah kurang waras— mondar-mandir sepanjang jalan protokol Desa Jeranglah Tinggi Kecamatan Manna hingga Desa Muara Pulutan Kecamatan Seginim, dua hari terakhir, memantik penilaian beragam di seantero Kabupaten Bengkulu Selatan.

Meski sempat ditangkap warga di perbatasan Desa Jeranglah Tinggi-Padang Pandan setelah terpantau turun dari mobil yang dikendarainya lalu mendekati seorang anak, Sabtu (8/3/2020) sore, warga Pekon Pasar Hulu Kabupaten Lampung Utara (Lampura) ini masih dianggap misterius.

Seberapa gila Si Rafik ini sehingga sukses membuktikan orang gila (orgil) mampu menyetir sejauh 198 kilometer —jarak Lampura-Bengkulu Selatan— tanpa hambatan berarti di jalan dan tidak terpantau petugas keamanan jalan raya? Benarkah Bengkulu Selatan sudah tidak bebas dari teror rumor penculikan anak?

Baca Juga: Plesir ke Bengkulu Selatan, Orgil Lampura Dikira Penculik

Informasi terkini, sebelum sempat diperiksa kondisi konkret kejiwaannya, Rafik —diamankan di Mapolsek Manna— sudah dibebaskan, diduga karena dijemput keluarganya.

 

Belum Tentu Hoaks

Menurut catatan redaksi, di Kabupaten Bengkulu Selatan, penculikan anak sejauh ini diyakini baru sebatas rumor. Desas-desus penculikan bagai simalakama, naluri sulit mengabaikan, tapi terasa sedikit (maaf) goblok kalau terlalu diladeni.

Sejarah negeri ini mencatat, rumor serupa pernah memporakporandakan kondusifitas Banyuwangi Jawa Timur yang menempatkan ‘ninja’ sebagai stimulator —bahkan sesekali menjadi eksekutor— aksi.

Rentang Februari-September 1998, sedikitnya 147 tokoh dan guru mengaji hilang atau tewas dibantai, karena rumor/tudingan melakukan praktek perdukunan/santet. Ironisnya, hingga kini kasus dan motifnya belum terungkap secara utuh dan transparan.

Satu dekade kemudian, muncul lagi rumor —berdampak menyengsarakan— lebih ‘nyentrik’ mirip penculikan. Kabarnya, hanya dengan menyiapkan seekor tokek —ketentuan jenis berubah-ubah— berukuran di atas 32 cm atau sekitar 3 ons, seorang gembel bisa kantongi rupiah ratusan juta hingga miliaran.

Menyadari ini sebagai jalan pintas menuju tajir, tidak terhitung jumlah pemalas yang tertarik menjadi gecko hunter. Mendadak dunia serasa kedatangan reinkarnasi Indiana Jones, petualang sekaligus arkeolog tersohor asal Connecticut University.

Setelah para penderita HIV/AIDS —umumnya dari China, Korsel dan Jepang— mengetahui sel darah dan organ tokek tidak mampu menyembuhkan penyakit mereka, bukan saja menyebabkan harga anjlok, tapi mereka bahkan tidak pernah mengonfirmasi ‘order’ tokek dibatalkan. Pengorbanan biaya dan waktu bertahun-tahun para Indiana Jones sia-sia.

Saat broker dan buyer tokek kompak raib begitu saja, sebagian spekulan memanfaatkannya beralih ke propaganda katana —senjata khas Samurai Jepang— dengan harga melejit setinggi langit.

“Lebih tiga tahun saya tekuni, memang ada barangnya, samurai King Roll harga 500 miliar. Tapi rupanya cuma dijadikan bahan ngamen (dipajang di depan calon pembeli, akan dapat bayaran kalau ingin tes keaslian atau mengikat perjanjian sanggup beli-red). Di mana-mana pertemuan dengan calon buyer, barangnya itu-itu saja,” ungkap salah satu mantan pengikut broker katana, Sabtu (8/3) malam.

Kembali ke kisah penculikan anak, kasus ini dikabarkan pernah menampakkan korban nyata di beberapa kawasan perbatasan Kalimantan dengan Sarawak (Malaysia Timur) penghujung era 70’an, kemudian meredup sejak medio era 90’an.

Baca Juga: NU Minta Tidak Terprovokasi Teror Orang Gila

Kala itu, proyek-proyek infrastruktur dikambinghitamkan. Konon, para korban diorder pelaksanakan proyek untuk dijadikan tumbal persembahan di lokasi proyek. Era kekinian, kedok itu terbongkar, ternyata —masih berurusan dengan hantu yang sama— tumbal dalam sesajian di lokasi proyek cukup dengan kepala kerbau, sapi atau kambing yang harga dan resiko kemanusiaannya lebih rendah.

Lantas, diapakan anak-anak korban penculikan tadi? Belum tentu dibunuh —lalu organnya diperdagangkan, sebab beberapa kali kedapatan oleh keluarga korban dan aparat penegak hukum rumah transit berisi banyak anak beragam usia. Mereka mengantri jadwal penjualan, atau dilepasliarkan sebagai gembel karena gagal terjual.[red]